Tajuk Karangan

Makanan dan MinumanHukum Islam Tentang Makanan - MinumanDunia di era globalisasi memang serba memusingkan. Mau ini salah, mau itu juga salah. Karena kita telah mengenal segala sesuatu dengan cara pintas dan tidak baik. Banyak terjadi kemungkaran di mana-mana. Termasuk makanan dan minuman yang haram.....

Readmore

Larangan Sombong Dalam IslamLarangan Sombong Dalam IslamSuatu hari mungkin kita menemui suatu kemudahan dalam urusan kita. Orang lain bertanya kepada kita bagaimana cara anda menyelesaikan persoalan tersebut....

Readmore

Bencana Akibat Kemaksiatan - Sistem Yang BatilBencana Akibat Kemaksiatan - Sistem Yang BatilSungguh amat pilu negeri pertiwi kita. Bencana kembali melanda Indonesia, ini sejarah mencatat 3 bencana besar datang hampir bersamaan. Mulai dari bencana di Wasior, Papua,.....

Readmore

Kaum Terdahulu Yang DimusnahkanKaum Terdahulu Yang Dimusnahkan Sebenarnya, dari dulu telah terjadi kerusakan moral dan etika yang dikenal dengan zaman jahiliyah (kebodohan). Mereka adalah kaum yang dilaknat oleh Allah SWT dan diabadikan di dalam Al Quran...

Readmore

Kembali ke Al Quran - Hadis, Tegakkan Syariah IslamKembali ke Al Quran - Hadis, Tegakkan Syariah IslamDilema masyarakat kita tentang kebenaran suatu perkara atau hal yang sangat pelik sekali pun menjadi sesuatu yang tidak dapat ditentang. Sudah merupakan tuntutan jaman yang serba ingin cepat dan instan, membuat segalanya jadi kabur....

Readmore

Patuh Hukum Islam

Bersumber dari quran dan hadis. Bangun generasi intelek muslim

Al Bayan :
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
QS. Al Baqarah {2}:23


Minggu, 24 Juni 2012

Comments Soal HAM Barat dan Toleransi yang Tidak Adil

Meskipun Islam tidak memberi klaim keselamatan terhadap pemeluk agama lain, akan tetapi ajaran Islam tidak memperkenankan mengebiri dan menyerang pemeluk agama lain. Islam menilai agama lain tidak benar, namun bukan berarti klaim ini melegitimasi melakukan penyerangan tanpa sebab. Peperangan dalam Islam didudukkan sebagai usaha prefentif (tadafu’), tidak mendudukkannya sebagai konfik (shira’). Visi Islam menjaga harmonitas dan koeksistensi antar kelompok, melalui usaha preventif bukan konflik.
Dalam Islam, toleransi (samahah) merupakan ciri khas dari ajaran. Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap toleran, tolong-menolong, hidup yang harmonis, dan dinamis di antara umat manusia tanpa memandang agama, bahasa, dan ras mereka (QS. Al-Mumtahanah: 8-9).
Kontroversi HAM
Pada 10 Desember 1948 PBB mengesahkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). DUHAM disusun sebagai usaha untuk mewujudkan dunia yang berkeadilan dan terbangunnya kerjasama yang berguna bagi manusia seluruh dunia tanpa memandang ras dan agama.

Tapi ternyata deklarasi DUHAM sejak awal menui kontroversi. Konsep HAM lebih kecenderung kepada humanisme. Padahal humanisme selalu dibenturkan dengan agama-agama. Penyusunan deklarasi juga masih diskriminatif. PBB tidak melibatkan Negara-negara Afrika Asia. Justru deklarasi disusun oleh sejumlah Negara Barat adidaya.

Beberapa utusan agamawan dari berbagai Negara sempat meminta butir-butir DUHAM agar direvisi. Dan syarat-syaratnya dibuat lebih adil dengan memasukkan konsep-konsep yang berdasarkan agama baik spiritual maupun tangngung jawab. Pertemuan-pertemuan dalam Project on Religion and Human Right di New York pada Juli 2003 dan peringatan ulang tahun 50 tahun DUHAM di McGill Montreal Kanada dimanfaatkan oleh Negara-negara Islam. Pertemuan itu menghasilkan Universal Deklaration of Human Right by the World Religions. Namun tetap saja, konsep HAM masih meminggirkan agama.

Tidak Ada Kompromi
Hak-hak agama Islam belum mendapatkan tempat. Perwakilan Islam mempersoalkan pasal 16 dan 18. Tentang hak melaksanakan ajaran agama dan perkawinan beda agama.  Aspirasi umat Islam mentok. Ternyata ada pembatasan dan reduksi melaksankan ajaran secara penuh.

Memang karena dasarnya adalah humanisme sekular, maka tidak ada tempat bebas bagi agama, khususnya Islam. Hak-hak mematuhi dan melaksanakan ajaran agama Islam terbatas. Yang membatasi adalah sekularisme. Ideologi humanis-sekular menurut Dr. Anis Malik Thoha adalah salah satu wajah dari tren pluralisme. Ideologi ini bercirikan antroposentris, yaitu menganggap manusia sebagai hakikat sentral kosmos. Secara epistemologis, manusia itu sumber kebenaran, kebenaran Tuhan tidak bisa dijangkau.

Spirit humanisme adalah pengingkaaran terhadap kebenaran metafisik absolute. Ia adalah ideologi kuno yang menilai manusia sebagai satu-satunya pengatur nilai. Cikal bakalnya dapat dilacak pada abad ke-5 SM. Dipopularkan oleh filosof Protagoras. Protagoras, yang juga tokoh Sophis Yunani mengatakan manusia adalah satu-satunya standar bagi segala sesuatu, bukan doktrin agama.

Karena itu idologi ini tidak pernah sukses berkompromi dengan agama. Maka tidak heran, jika sering kita temui diskriminasi Barat sekular terhadap Islam. Karena sejatinya, tidak tempat keadilan untuk agama, khususunya Islam.

Anehnya, yang dituduh intoleran oleh PBB justru muslim Indonesia. Seperti baru-baru ini ada laporan dari Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, 23 Mei 2012, yang menulis bahwa Indonesia Negara muslim yang tidak toleran. Di sinilah letak tidak adilnya. Di Swiss menara dilarang. Adzan dilarang dikeraskan. Tapi Negara ini tidak pernah disebut Negara toleran. Justru di Indonesia, agama-agama non-Islam bebas hidup. Di Negara Barat tidak ada hari besar agama kaum minoritas menjadi hari libur nasional. Tapi di Indonesia hal itu tidak pernah diributkan. Gereja-gerja dan Vihara bebas, tidak diganggu. Siswa-siswa non-muslim masih bisa belajar agamanya di sekolah-sekolah negeri. Di Eropa belum ditemukan setoleran itu. Tapi kenapa tidak dipersoalkan? Jelas karena Eropa sekular, sedangkan Indonesia religius.

Catatan-catan intoleransi Barat, sudah banyak ditulis, tapi tidak pernah diproses hukum. pernah ditulis Washington Post pada 25 November 2006, seorang anggota Perlemen Inggris, Jack Straw, dengan arogan meminta kaum muslimah melepas cadarnya ketika masuk ke kantornya. Islam dan muslim masih dipandang rendah dan kelas bawah yang perlu dicurigai. Beberapa waktu lalu Syekh Yusuf Qardhawi dicekal dilarang  masuk Negara Prancis.

Fakta-fakta ini sesungguhnya menunjukkan peradaban Barat belum mampu belajar toleransi bergama. Faktornya adalah sekularisme — yang menjadi ideologi Barat — tidak mengajarkan toleransi terhadap agama-agama. Sekularisme dan liberalisme meminggirkan agama dan menindas doktrin-doktrin sentral agama.

Maka, yang harus belajar  toleransi itu adalah Barat secular kepada Islam. Bukan kaum muslimin yang belajar toleransi kepada mereka.

Kebenaran Toleransi
Oleh sebab itu, klaim kebenaran sebenarnya tidak menghalangi pemeluk agama lain untuk menentapkan perkara mereka sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitab suci mereka. Hal ini berbeda dengan ideologi sekularisme. Sekularisme membatasi hak-hak beragama di ruangan publik. Sedangkan Islam memberi izin.

Toleransi Islam seperti itu telah lama dipraktikkan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Kemudian diteruskan oleh para khalifah di Baghdad dan Andalusia. Bernard Lewis mengakui toleransi Islam. Dalam The Jews of Islam ia mengatakan, bahwa orang-orang Yahudi merasa aman hidup di bawah naungan orang Islam selama berabad-abad. Mereka tidak ditindas atau dirampas hak-haknya, bahkan mendapat kesempatan untuk bersekolah di lembaga-lembaga kajian. Kaum Yahudi hanya dikecam karena kekufurannya, namun mereka tetap mendapatkan hak-hak hidupnya.

Dalam sistem Islam ada konsep kafir dzimmi.Allah tidak melarang berbuat baik kepada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari peperangan dan tidak membantu orang kafir lainnya dalam memerangi umat Islam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Kafir dzimmi itu dilindungi karena taat pada kepemimpinan Islam dan tidak menyebarkan kesesatan kepada umat Islam. Bahkan umat Islam dilarang mendzalimi ahl al-dzimmi ini.

Maka, jika ingin adil, Barat mestinya yang perlu belajar kepada Islam. Sementara kaum muslimin perlu mendalami sejarahnya secara benar – dimana toleransi itu begitu agung diamalkan tanpa ada diskriminasi. Kaum muslim tidak perlu minder dengan tawaran konsep-konsep HAM sekular. Karena sejatinya konsep Islam telah sempurna.

wallahu a'lam bish shawab. ***
Read More...

Jumat, 25 Mei 2012

Comments Garis Pemimpin Dai Sebagai Dakwah Islam

Tidak seperti petarung, yang kemampuannya bisa dilatih sepuluh tahun. Tidak juga penulis dan pelukis, atau dokter dan desainer. Kepemimpinan dibangun atas formula yang rumit. Karena ia berarti mengelola manusia yang berkeinginan, manusia yang berobsesi luhur, atau manusia yang tidak sudi diatur. Kepemimpinan menyalurkan potensi dan mengarahkannya ke tujuan. Terlebih kepemimpinan yang ini, bukanlah pemimpin se-kampung dan se-kota, atau se-jazirah Arab, tapi pemimpin umat manusia di zamannya, hingga akhir dunia. Mengantar manusia dari pekatnya malam ke gerbang pagi menuju benderang siang. Dan itu butuh persiapan mental, pikiran dan fisik yang sempurna.

Persiapan itu bukan dimulai di usia dewasa atau remaja, tapi sejak lahir, bahkan sebelum lahirnya. Tahun kelahiran Muhammad adalah ‘âmul fîl, tahun kesyukuran Arab Mekah yang selamat dari ancaman invasi pasukan Gajah. Ia lahir senin, 12 rabîul awwal.

Saat Abrahah menyerbu Mekah dengan enam puluh ribu pasukannya, ia meminta tim intelijennya untuk meneliti tokoh yang paling berpengaruh di Mekah. Dan ia adalah Abdul Muthallib, kakek Muhammad. Saat Abdul Muthallib menghadapi Abrahah yang agung di atas gajah terbesarnya, Abrahah gamang. Yang dihadapinya ternyata tidak hanya disegani Quraisy, tapi diseganinya juga. Ia yang biasanya percaya diri sekarang bingung, ia yang biasanya sombong sekarang tidak bisa tidak untuk menghormatinya. Tapi tidak mungkin mendudukkannya di atas gajah juga. Akhirnya ia sendiri yang turun dari gajahnya, wibawa raja luntur, ditelan kharisma lelaki di depannya.

Abdullah anak lelakinya pun paling terhormat di sana yang kemudian menikah dengan wanita paling terjaga kesuciannya, Aminah. Setiap detik kehidupan Muhammad Sang Da’i penuh perencanaan Allah. Sempurna, agar umat setelahnya bisa mengkaji kesempurnaan alur pertumbuhan Muhammad bayi menuju dewasanya. ‘‘Allah memilih Kinânah di antara keturunan Ismâ’îl, dan memilih Quraisy dari Kinânah, dan memilih dari Quraisy itu bani Hâsyim, dan memilihku dari banî Hâsyim’’ kata Rasulullah suatu hari.

Garis keturunan ini penting, karena manusia pada fitrahnya menghormati silsilah yang terhormat. Di manapun itu, terlebih di Amerika Serikat saat ini. Mereka mencengkeram keyakinan blue blood atau darah biru. Merekalah yang dianggap lapisan paling luhur dari masyarakat, yaitu WASP [White, Anglo, Saxon, Protestant]. Mereka haruslah berkulit putih, berasal dari Inggris golongan Saxon, dan bermazhab Kristen Protestan.

Garis keluhuran nasab pada dasarnya tidak menjadi ruang pertanggungjawaban muslim dalam Islam, karena ia bukan usaha manusia, tapi pilihan Allah. Namun manusia memang lebih menghormati jika seorang pemimpin mempunyai keluhuran nasab. Dan Muhammad, disiapkan untuk menjadi pemimpin para pemimpin, sehingga nasabnya bukan sekadar bersih, tapi garis luhur para pemimpin di kaumnya.

Poin yang menjadi kaidah dakwah bahwa pencetakan generasi masa depan, generasi pemimpin bukanlah dimulai dari pendidikan anak, tapi dari keagungan orang tua, bahkan dari kesucian masa muda mereka. Mungkin generasi baru itu tumbuh dan memukau tetapi dalam beberapa kondisi rusaknya reputasi keluarga bisa menjadi fitnah besar dalam kehidupan dakwah seorang dai kecuali jika ia sudah maksimal dalam usaha perbaikan itu.

Mental kepemimpinan Muhammad bahkan dibangun saat ia dalam gendongan kakeknya. Dalam rapat-rapat resmi tetua kaum, dalam momen-momen diplomasi politik. Saat beberapa pembesar Quraisy memprotes kebiasaan Abdul Muthallib membaca Muhammad kecil ke forum-forum resmi, dengan ringan ia beralasan “biarkan anakku ini, karena demi Allah, ia akan memikul urusan besar’’.

Pengalaman-pengalaman rutin ini membangun mental kepemimpinan seorang da’i. Ia melihat momen-momen para pembesar kaum itu berbicara dan berdebat, berdiplomasi dan bersiasat, menerima tamu dan merencanakan perang, berbisnis bahkan bertarung. Pengalaman-pengalaman itu hidup dalam darah dan daging, bukan sekadar visual seperti membaca, atau auditorial dalam mendengar cerita. Muhammad muda memahami sejak kecil bahwa ada urusan besar dalam hidup manusia, sehingga otaknya tidak disibukkan dengan bermain.

Akumulasi ini yang membangun mental kepemimpinan. Ia bukan pelajaran yang dihafal tapi motivasi yang terus ditiupkan dan disimulasikan dalam pengalaman harian. Seperti saat Mu’awiyyah kecil didoakan seseorang untuk menjadi pemimpin Quraisy, ibunya marah membentak ‘‘celakalah kamu, dia tidak dilahirkan untuk memimpin Arab, tapi dunia’’. Atau seperti Muhammad al-Fâtih kecil yang selalu dibacakan hadits Rasulullah ‘‘Kota Konstantinopel akan dibebaskan, pemimpin terbaik adalah pemimpin yang membebaskannya…’’. Dan tiba-tiba saja ide-ide di ruang pikiran itu mengejawantah di medan kenyataan di masa dewasa mereka. Daulah Umawiyyah yang didirikan Mu’awiyyah dan Daulah Ustmâniyyah yang akhirnya beribu kota Konstantinopel di zaman Muhammad al-Fâtih wilayahnya mencakup tiga benua dan menjadi imperium terkuat di zaman mereka.

Hal ini mengajari kita bahwa di balik para pemimpin besar, ada obsesi luhur yang membara sejak mereka kecil. Obsesi yang tidak rela dengan kondisi zamannya yang hina, obsesi yang ingin mengembalikan kemanusiaan manusia. Dan sejak kecil hingga remaja Muhammad merasakannya. Hanya saat itu ia belum tahu harus memulai dari mana. Dan terlebih ia tidak tahu, bahwa ada rencana Allah yang menanti untuk mendidiknya menjadi pemimpin umat.

Wallahu a'lam bish shawab.
Read More...

Rabu, 14 Maret 2012

Comments Bila Gagal, Bangkit Lalu Raih Kesuksesan !


Jangan ukur seseorang dengan menghitung berapa kali dia jatuh, ukurlah ia dengan beberapa kali dia sanggup bangkit kembali. Seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa.

Menyedihkan, mendengar bahwa banyak orang seperti mereka, setelah sekali dua kali gagal, memilih untuk menetap di situ dan akhirnya mati sebagai orang yang sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.

Mengukur Kualitas Diri
Apakah kualitas diri kita akan membantu bangkit kembali setelah kita terjatuh? Kualitas diri sendiri adalah sesuatu yang mesti saya sebutkan, karena kalau tidak, makna buku ini panduan ini tidak sempurna.

”Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Bakat pun tidak; Banyak sekali orang berbakat yang tidak sukses. Kejeniusan pun tidak; Jenius yang tidak sukses sudah hampir menjadi olok-olokan. Pendidikan pun tidak; dunia ini penuh dengan orang terpelajar. Hanya kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh.”

Ya, ketabahan, yakni kemampuan bangkit kembali untuk ke sekian kalinya setelah terjatuh. Dalam benturan antara sungai dengan batu, air sungai senantiasa menang bukan dengan kekuatan tapi dengan ketabahan. Seberapa jauh Anda jatuh tidak menjadi masalah, tetapi yang penting seberapa sering Anda bang­kit kembali.
Berhasil Dari Kegagalan
Apabila Anda dapat terus mencoba setelah tiga kegagalan, Anda dapat mempertimbangkan diri untuk menjadi pemimpin dalam pekerjaan Anda sekarang. Jika Anda terus mencoba setelah mengalami belasan kegagalan, ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri Anda.

Thomas Alfa Edison, saat ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia, General Electric ini menjawab, ”Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”

Sungai Colorado mengalir tabah terus-menerus, melahirkan Grand Canyon. Charles Goodyear yang tekun, membuahkan ban yang memungkinkan kendaraaan melaju kencang. Tabahnya Wright bersaudara membuahkan pesawat terbang. Bethoven, mengisi dunia dengan musik inspiratif, John Milton membuahkan karya puisi indah yang menyejukkan hati, perempuan tunanetra yang tegar Helen Keller, memberikan harapan kepada semua or­ang cacat, ketabahan Abraham Lincoln membuatnya terpilih menjadi Presiden, dan tentu, Thomas Alfa Edison, memberi kita cahaya listrik. Kesuksesan tergantung pada kekuatan untuk bertahan. Kurang tabah merupakan salah satu alasan orang gagal dalam bisnis, politik, dan kehidupan pribadi.

”Setiap orang sukses menyatakan bahwa kesuksesan hanya berada di luar ketika mereka yakin idenya akan berhasil,” Dr. Napoleon Hill.

Lalu,
Allah telah berfirman dalam kitab yang mulia, al quran al karim:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az Zumar (39):53)

Islam tidaklah mengajarkan berputus asa :

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. {Al Insyirah (94): 5-6}

Maka sudah saatnya kita bangkit menjadi satu umat yang kokoh.

Wallahu a'lam bish showab.***
Read More...