Patuh Hukum Islam

Bersumber dari quran dan hadis. Bangun generasi intelek muslim

Al Bayan :
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
QS. Al Baqarah {2}:23


Rabu, 28 Juli 2010

Comments Menata Ulang Ruhaniah Berdasarkan Orientasi Islam

Semakin kita sering menggunakannya, semakin sering pula kita harus menata ulang. Begitulah yang biasa kita lakukan terhadap komputer kita yang semakin lama semakin lambat. Setelah itu kita melakukan defragmentasi, yaitu penataan ulang kembali sistem dan berkas-berkas data di komputer yang berantakan.

Ruhaniah kita tak jauh bedanya dengan komputer. Semakin sering dipakai, semakin perlu untuk ditata ulang. Kita sering membawa ruhaniah kita ke mana pun kita berada. Kemudian menggunakannya untuk menentukan langkah yang baik dan buruk.

Ruhaniah yang Usang
Setelah ruhaniah kita sering kita pakai, semakin berpotensi ruhaniah kita akan terfragmentasi. Hal ini menyebabkan ruhaniah kita tidak stabil sehingga berpengaruh terhadap keimanan kita. Rasulullah mengibaratkan hal ini seperti pakaian usang.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya iman yang ada di dalam hatimu akan usang sebagaimana halnya pakaian, maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati-hati kamu." (Riwayat Tabrani)

Dalam keadaan senggang pun, kita menyuruh ruhaniah kita untuk bekerja tanpa istirahat sedikitpun. Kita berangan-angan, berkhayal, dan terbawa dalam lamunan kita bagaimana bila kita menjadi orang yang sukses, kaya, dan selalu mengejar materi.

Tata Ulang Tujuan Hidup
Jika kembali melihat pandangan hidup kita, sebagai seorang muslim tentu tidak dapat kita sangkal lagi. Mengenai tujuan hidup kita, Allah telah berfirman dalam QS. Adz Dzariayat {51}: 56

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.


Tak ada tawar menawar lagi tentang tujuan hidup kita di dunia. Apalagi kita adalah seorang muslim yang diberi nikmat Islam yang wajib kita syukuri. Kita telah mengetahui konsekuensi dalam beragama islam yakni harus patuh kepada syariah Islam.

Maka, menata ulang tujuan hidup akan membuat diri kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Kita akan memiliki jiwa yang kokoh dan tak mudah digoyahkan oleh pandangan hidup orang-orang orientalis dan liberalis yang selalu gencar memberikan orientasi hidup duniawi saja, jauh dari agama. Apapun kondisinya, kita tetap menuju satu titik, yakni mengharap ridha Allah.

Rasulullah yang menjadi suri tauladan kita telah mengerti orientasi hidup dan tidak tergiur oleh godaan dunia yang hanyalah bersifat sementara. Beliau bersabda

"Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya." (Riwayat Tirmidzi)

Tata Ulang Akhlak
Akhlak adalah inti agama. Bahkan karena perkara inilah rasulullah diutus oleh Allah sebagaimana sabda beliau.

Rasulullah bersabda, "Aku diutus (oleh Allah) hanyalah untuk menyempurnakan akhlak."(Riwayat Ahmad)

"Bila kita sedang bimbang, tanyakanlah kepada lubuk hati yang paling dalam", begitulah istilah atau kata-kata mutiara yang sering kita dengar atau kita lontarkan kepada orang lain. Bagaimana bisa kita bertanya kepada hati yang apabila hati kita selalu kita paksa untuk kejelekan dan kemaksiatan. Hati yang demikian akan menjadi dingin, keras bahkan lebih keras daripada batuan sekalipun. Sebelum terlambat, lakukan seperti yang sering diucapkan oleh Aa' Gym, "Jagalah Hati!"

Wallahu a'lam bish showab.***
Read More...

Minggu, 25 Juli 2010

Comments Siap Puasa di Bulan Ramadhan, Tunggu Dulu!

Tak terasa bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT dan yang sering dinanti-nanti oleh para sahabat Rasul dan Nabi Muhammad SAW akan tiba. Hanya tinggal hitungan hari, kita insya Allah dapat bertemu dengan bulan yang agung ini. Betapa tidak, berbagai keutamaan ibadah sunnah, amal, kebaikan, sedekah, dan berbagai aktifitas yang diniatkan ikhlas karena Allah akan mendapatkan pahala yang dilipatgandakan dan diberikan keutamaan lebih dibanding bulan-bulan selainnya.

Benar, itulah Bulan Ramadhan. Bulan yang tentu dinantikan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa sebagai ajang berlomba-lomba dalam kebaikan selain menahan diri dari lapar dan dahaga. Diriwayatkan dari Sahl bin Saad r.a katanya:

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk seorangpun kecuali mereka. Kelak akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang lain yang akan memasukinya”. (Riwayat Bukhari-Muslim)

Kemudian dalam sebuath riwayat dari Abu Said al-Khudri r.a katanya:

Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap hamba yang berpuasa di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari api Neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun”. (Riwayat Bukhari-Muslim)

Siap puasa di Bulan Ramadhan, tunggu dulu! Hendaknya kita berfikir sejenak, apa yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya sehingga kita tidak serta merta langsung puasa. Diperlukan rencana berjangka tiga puluh hari kedepan untuk siap berpuasa di Bulan Ramadhan. Hal ini patut dilakukan agar kita mendapatkan pahala secara maksimal dan menjadikan Bulan Ramadhan sebagai bulan penempaan akhlak dan pribadi kita. Lebih lanjut, berikut ulasannya.

Bukan Sekedar Puasa
Tujuan kita, umat Islam berpuasa adalah menerapkan syariah Islam yang telah dilakukan pada zaman Rasulullah SAW dan sahabatnya yang mulia. Allah telah berfirman dalam QS. Al Baqarah {2}: 183

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Berdasarkan ayat di atas, tujuan utama kita berpuasa adalah menjadi orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa adalah orang yang paling mulia di sisi AllahBertaqwa secara bahasa berarti menjaga, waspada, dan berhati-hati. Sedangkan menurut istilah taqwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Jika boleh saya definisikan, taqwa itu sebenarnya menjaga, waspada, dan berhati-hati dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya untuk mencapai derajad paling mulia.

Yang perlu kita ketahui disini adalah, apakah dengan sekedar kita menahan diri dari lapar dan dahaga membuat kita menjadi orang-orang yang mulia di sisi Allah. Jika demikian, sungguh mudah sekali dan saya yakin setiap muslim pasti mendapatkannya.

Setelah kita mengetahui bahwa tujuan puasa adalah menjadi orang yang bertaqwa, yakni orang yang paling mulia kedudukannya disisi Allah hendaknya kita sadar dan memacu diri untuk benar-benar berniat membenahi dan menjaga diri dalam puasa kita nantinya. Tanpa niat ikhlas menjadikan puasa di Bulan Ramadhan sebagai wahana penempaan diri untuk kemudian selepas Bulan Ramadhan kita menjadi orang yang lebih baik, tentulah puasa kita tak bernilai apapun. Rasulullah telah bersabda :

"Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga." (HR Nasai dan Ibnu Majah).

Oleh karena itu, hendaknya mulai saat ini (sebelum puasa Ramadhan) kita sudah mencoba untuk melakukan amal kebajikan lebih banyak seperti bersabar, tidak ghibah (menggunjing), banyak mengucap kalimat istighfar (memohon ampun kepada Allah), dan perbuatan bathil dan maksiat lainnya yang dapat mengurangi, bahkan menggugurkan pahala puasa kita agar nantinya lebih terbiasa dilakukan pada Bulan Ramadhan.

Puasa Sya'ban
Pada zaman Rasulullah dan sahabat beliau yang berakhlak mulia sebelum datang Bulan Ramadhan, mereka banyak puasa di Bulan Sya'ban, yakni bulan sebelum Ramadhan sebagai pelatihan. Mengenai waktu puasanya para ulama terdapat perbedaan pendapat. untuk ulama yang memperbolehkan puasa sebulan penuh di Bulan Sya'ban berdasarkan hadis riwayat dari Umi Salmah:

"Saya tak pernah melihat Rasulullah puasa dua bulan berturut-turut kecuali di bulan Sya'ban dan Ramadan." Dalam redaksi lain: "Tidak pernah Rasulullah melakukan puasa sunnah sebulan penuh kecuali di bulan Sya'ban." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah).

Dan dalam riwayat lain oleh Ibnu Majah:

"Nabi pernah puasa (penuh) di bulan Sya'ban dan Ramadan."

Akan tetapi dalam penerapannya, Rasulullah dan sahabat beliau sering melakukan puasa sunnah sehingga puasa sebulan di Bulan Sya'ban tidak begitu mengganggu puasa di Bulan Ramadhan. Sementara kita mungkin yang jarang atau bahkan tidak pernah puasa sunnah diperbolehkan berpuasa menurut kemampuan asalkan puasa sunnah Sya'ban tidak mengganggu puasa wajib di bulan Ramadhan. Bahkan terdapat hadis yang menerangkan larangan puasa satu atau dua hari sebelum berpuasa dikarenakan Rasullah khawatir umatnya tidak sanggup berpuasa sya'ban yang langsung disambung dengan puasa Ramadhan sehingga memberikannya jeda waktu untuk istirahat.

Demikian sedikit materi yang dapat saya berikan. Semoga Allah memberikan kesempatan berjumpa dengan Bulan Ramadhan, memberikan kesanggupan berpuasa dan beramal shalih, mendapatkan keutamaan Ramadhan (insya Allah saya akan bahas) hingga akhir bulan nanti. Dan dengan puasa kita mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang mulia, yakni orang yang bertaqwa.

Wallahu a'lam bish showab.***
Read More...

Selasa, 20 Juli 2010

Comments Janji Allah Kepada Muslim di Akhirat, Bukan di Dunia

Seorang muslim sering mendapati penderitaan, kemiskinan, dan ketakutan. Lantas kemudian berfikir, mengapa Allah memberi ujian demikian hebatnya padahal dirinya telah beriman, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berikut ulasan ringkasnya.

Kehidupan yang Lebih Baik
Ditengah polemik, masalah kehidupan yang ada membuat kita sebagai manusia membuat kita harus menerjang badai dan liku-liku kehidupan modern. Menjadi hal yang diwajarkan oleh masyarakat sekitar kita bila kemudian menempuh jalan tak halal untuk dapat menempuhnya.

Tak terkecuali seorang muslim yang merupakan manusia biasa. Sering kita bertanya dan merenung, mana janji Allah yang telah ditetapkan-Nya kepada hambanya yang berupa kemudahan urusan. Nah, pada poin ini sering kita lupa atau bahkan tidak tahu "janji Allah kepada seseorang yang Islam, beriman, dan bertaqwa bukanlah di dunia, melainkan di akhirat". Memang beberapa muslim di dunia diberikan rezki yang melimpah, tetapi yang Allah tekankan dan pilihkan bagi seorang muslim adalah hal yang terbaik. Mungkin saja dengan kelebihan rezki kita malah menjadi seperti orang-orang terdahulu yang melampaui batas, kita pun tak tahu.

Bukankah surga lebih baik daripada perhiasan emas dan perak atau bahkan dunia seisinya? Allah berfirman dalam QS. Al An'am {6}: 32

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Ujian dan Cobaan
Dalam ayat-ayat al quran Allah telah banyak menerangkan bahwa manusia diciptakan adalah untuk diberikan ujian dan cobaan kebaikan dan keburukan diantaranya dalam QS. Al Kahfi {18}: 7

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Jelas sudah bahwa Allah menguji manusia untuk kemudian diketahui siapakah yang paling baik amalnya. Niscaya Allah akan menepati janjinya sebagaimana dalam QS. Al Fathir {35}: 5

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

Setelah membaca ulasan di atas, masihkah kita merasa dirugikan menjadi seorang muslim? Wallahu a'lam bish showab.***
Read More...

Jumat, 16 Juli 2010

Comments Berani Katakan "Tidak" Kepada Non-Muslim

Islam memang agama yang mengajarkan toleransi yang sangat besar kepada pemeluk agama lain. Toleransi adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Toleransi, karena itu, merupakan konsep agung dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian dari ajaran agama-agama, termasuk agama Islam.

Akan tetapi, hal yang terlanjur timbul ke permukaan adalah toleransi dalam bentuk lain yang sering diungkapkan oleh kaum liberalis. Toleransi yang dimaksud adalah dalam bentuk rutinitas kerohanian agama lain. Sebagian dari kita menganggap, semisal perayaan-perayaan yang tidak ada syariah Islam di dalamnya, atau merupakan perayaan agama lain seperti natal, hari valentine, dan perayaan lainnya menjadi patut diikutsertakan dalam sendi-sendi Islam sebagai bentuk toleransi.

Toleransi Islam, Kebebasan Beragama
Islam secara jelas dan terang-terangan mengedepankan toleransi. Kita pun dilarang untuk memaksakan agama kita kepada orang lain karena hidayah itu hanya milih Allah. Allah-lah yang memutuskan hendak memberi nikmat (petunjuk) kepada seseorang atau pun tidak. Oleh karenanya, wajib kita syukuri nikmat Islam yang Allah telah berikan kepada kita seperti artikel lalu yang telah saya bahas.

Allah memperjelas dalam QS. Al Baqarah {2}: 256

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat (Islam) yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dalam ayat di atas, terlihat bahwa tidak ada paksaan memeluk Islam. Namun, Allah mempertegas bahwa yang berpegang kepada tali Islam-lah yang benar dan bukan jalan sesat.

Yang Itu, Bukan Toleransi
Segala macam cara ditempuh oleh segolongan orang yang membenci Islam. Tak ketinggalan mulai dari pola pikir dan seluk beluk sendi-sendi Islam pun mereka ikut beragumen. "Tak ikut-ikutan, tak ikut trend". Mereka sengaja membuat trend yang mereka maksud adalah trend yang menyimpang dari Islam yang terkadang mereka selipkan budaya-budaya non-muslim.

Maka, jangan hiraukan ucapan mereka! Biarlah mereka bertoleransi menurut ide-ide mereka sendiri. Kita sudah memiliki patokan toleransi sesuai ajaran Islam. Sejak jaman Rasulullah pun, orang-orang non-muslim sering mengadakan negosiasi toleransi beragama hingga masalah beribadatan dan akidah. Kemudian turunlah surat penegasan yang berisikan penolakan toleransi yang dimaksud orang-orang non muslim tersebut dalam QS. Al Kafirun {109}: 1-6

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Terlihat dari ayat di atas ucapan yang sama ditulis berkali-kali. Hal ini menjadi penegasan bahwa dalam Islam tidak ada toleransi dalam hal ibadah dan akidah. Kita tak perlu malu tunjukkan identitas Islam kita. Semoga sedikit ulasan ini dapat membuka wawasan kita dan lebih berhati-hati lagi.

Wallahu a'lam bish showab.***
Read More...

Senin, 12 Juli 2010

Comments Nikmat Beragama Islam, Jangan Engkau Siakan!

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, syukur kita ucapkan atas limpahan rahmat Allah berupa kesehatan, kecukupan dan kebarakahan rezeki. Kita sering, bahkan lupa sama sekali akan nikmat yang khusus Allah berikan kepada hamba-hamba yang dipilihnya. Nikmat ini tak dapat ditolak dan tak dapat didatangkan untuk siapa pun kecuali mereka yang telah ditetapkan Allah untuknya.

Benar, nikmat Islam. Sadarkah Anda bahwa sisa umur yang diberikan Allah apakah lantas hanya kehidupan tanpa tujuan? Untuk itulah, Rasulullah datang sebagai pembawa kabar gembira sekaligus peringatan yang terdapat pada agama Islam. Permasalahannya, hampir seluruh umat Islam ini tak sadar akan hal tersebut dan "tak mau sadar".

Kesempurnaan Islam
Islam adalah agama yang Allah rahmati dan ridhai. Mungkin berbeda dengan paham penganut sekulerisme bahwa semua agama itu sama. Sekali lagi, Tidak! Islam benar-benar dan satu-satunya pilihan yang tak ada bandingan dengan agama lainnya. Hal ini sesuai dengan surat terakhir yang turun sebelum Rasulullah saw wafat pada potongan QS Al Maidah {5}: 3

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.
Jelaslah sudah, Islam sebagai agama penyempurna dari ajaran-ajaran tauhid yang diajarkan kepada umat-umat nabi sebelumnya.

Letak Kenikmatan
Setelah mengetahui hal tersebut, lalu di mana letak kenikmatannya? Menjadi hal yang normal bila diberi barang dengan spesifikasi dan fitur yang luar biasa dan limited edition, tentu kita berbangga hati. Nah, lalu dari sinilah kita bisa mengambil nikmat. Kesempurnaan yang hanya ada pada Islam, hendaknya juga sama kita harapkan seperti keingingan memiliki sesuatu yang telah saya sebutkan diatas. Akan tetapi tak sembarang orang yang diberi kesadaran ini. Allah-lah yang memberi kenikmatan Islam sebagaimana dalam QS. Al Hujurat {49}: 17

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar."
Seharusnya Berbangga Hati
Nikmat yang ada, jangan kita sia-siakan. Kita patut bersyukur diberi sisa umur untuk memeluk agama Islam yang Allah berikan. Ibarat jual beli, kita penjualnya dan Allah pembelinya. Kita tentu merasa senang bila mendapat keuntungan berlipat dari jual beli kita kepada Allah berupa pahala dan surga yang dijanjikan sebagaimana dalam QS. At Taubah {9}: 111

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Subhanallah, sungguh mulia hidup seorang mukmin. Allah telah membeli jiwanya dan membalas dengan surga dan Allah Maha Menepati Janji. Selebihnya baca Tawaran Allah Kepada Orang Mukmin

Disini yang perlu ditekankan adalah menghilangkan kebiasaan malu yang terkadang ada walau di lubuk hati atau sepintas pikiran saja. Dan hendaknya kita sadar dan lebih malu lagi bila nikmat yang Allah berikan berupa agama Islam telah kita sia-siakan. Selebihnya dapat disimak dalam artikel yang telah saya terbitkan berjudul Tunjukan Identitas Muslim Anda, Mengapa Malu? Ya Allah, Engkau telah memilih kami menjadi seorang mukmin. Maka berikanlah janji-Mu. Sungguh Engkau Maha menepati Janji.

Wallahu a'lam bish showab.***
Read More...